Iblis Diciptakan Untuk Militan, Sebagai Pelajaran Bagi Manusia

Perintah pertama Allah kepada Rasulullah Saw adalah membaca. ‘Iqra’, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu. Membaca ini bukan saja sesuatu yang tersurat di dalam kertas, tetapi juga yang tersirat di alam semesta ini. Jagad raya ini adalah bacaan yang harus kita baca. Bagaimana tata letak gunung dan segala macam kehidupan di bumi ini adalah juga bacaan. Salah satu bacaan yang ingin saya tawarkan kepada pembaca adalah tentang Iblis, makhluk yang divonis durhaka kepada Allah Swt.  Mari kita teruskan penelusuran kita.

1. Militansi Iblis Saya yakin semua sudah memahami betapa militansi setan sebagai pelaksana misi Iblis sangat tinggi. Mereka tidak akan pernah berhenti apalagi mundur dari perjuangannya sampai mereka berhasil. Diibaratkan sebagai strategi, Iblis dan bala tentaranya memiliki bukan saja strategi A sampai Z, tetapi mungkin lebih dari itu. Kalau Pemadam Kebakaran mempunyai motto “Pantang pulang sebelum padam” mungkin Iblis mempunyai motto “lebih baik mati daripada gagal.” Mereka terus dan terus berorientasi pada tujuan. Tujuan mereka menggoda jin dan manusia adalah agar mereka mengikuti jejaknya, mengikuti rayuannya. Target mereka adalah membawa anak cucu Adam dan jin menjadi penghuni neraka semuanya meski hal tersebut mustahil. “Turunlah engkau dari surga itu, karena engkau tidak sepantasnya menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah, sebab sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang hina. Iblis menjawab, ‘Beri tangguhlah aku sampai waktu mereka dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘sesungguhnya engkau termasuk mereka yang diberi tangguh.’ Iblis menjawab,‘ Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, maka aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Qs Al A’raf : 13-16) So, Iblis telah mendapat izin Allah untuk menggoda kita. Dan kita pun sudah diberi tahu tentang hal-hal seperti itu dari Al-Qur’an dan Sunah Nabi Saw. Tinggal bagaimana dengan action kita. Dia dan anak buahnya yang sangat militan akan terus berusaha menjerumuskan kita. Ayo… kalahkan Iblis!!!

2. Menolong agar dosa musuhnya tidak diampuni Ada satu kisah yang cukup menggelitik. Abdullah bin Ummi Maktum ra, adalah salah seorang sahabat Rasulullah Saw. Ia seorang yang buta, dan inilah yang menjadi asbab diturunkannya surat ‘Abasa. Suatu ketika, Abdullah datang kepada Rasulullah Saw, setelah sebelumnya ia ditinggalkan oleh orang yang menuntunnya berjalan untuk menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid. Ia lalu menemui Rasulullah Saw, karena ingin meminta izin kepada beliau untuk tidak hadir shalat subuh bersama beliau. Maka Rasulullah Saw bertanya “Apakah engkau mendengar suara adzan? Abdullah pun menjawab “Ya, aku mendengarnya.” Beliau pun berkata, “kalau begitu, aku tidak melihat adanya rukhshah (keringanan) pada dirimu untuk tidak berjamaah di masjid.” Pada waktu subuh berikutnya, Abdullah bin Ummi Maktum hendak pergi ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah. Tiba-tiba diperjalanan, kakinya tersandung batu dan ia terjatuh hingga kepalanya terluka. Darah segarpun mengalir dari wajahnya. Iapun bangkit dan mengusap darah yang bercucuran pada wajahnya, agar bisa melanjutkan perjalanan ke masjid. Tiba-tiba ia merasa dihampiri oleh seorang lelaki yang tidak ia kenal sebelumnya dan langsung menyapanya dengan bertanya “Hendak pergi kemanakah engkau, wahai paman ?” Abdullah bin Ummi Maktum menjawab “Aku hendak pergi ke masjid,” Sang lelaki berkata, “Aku akan mengantarmu pergi ke masjid dan sekaligus mengantarmu pulang ke rumah.” Lalu lelaki itu pun memegang erat tangan sang sahabat dan menuntunnya pergi ke masjid, juga ketika pulang ke rumah. Demikianlah, peristiwa ini berlangsung dalam beberapa hari. Abdullah merasa senang dengan bantuan si lelaki yang menuntunnya pergi ke masjid dan pulang ke rumah. Ia pun menanyakan nama dan ikhwal lelaki tersebut. Lelaki itu berkata “Apa manfaat yang engkau dapatkan dari mengetahui namaku dan siapa sesungguhnya aku? Abdullah berkata “Aku ingin mendoakan dirimu, agar mendapat pahala dari Allah Swt, sebagai alasan atas perbuatan baik yang telah engkau lakukan untukku.” Lelaki itu menjawab, “Aku tidak ingin kau mendoakanku, juga mengetahui nama serta maksud dari perbuatan baikku ini terhadapmu” Abdullah berkata, “Demi Allah janganlah engkau menemani diriku lagi. Hingga aku mengetahui siapa dirimu yang sesungguhnya dan mengapa engkau menolongku tanpa mau menerima imbalan dariku.” Lelaki itu pun menjawab, “Karena engkau telah bersumpah dengan nama Allah, maka aku akan memberitahukan kepadamu. Ketahuilah bahwa aku adalah Iblis” Abdullah berkata “Bagaimana bisa engkau menuntunku pergi ke masjid, padahal engkau bisa melarang manusia untuk melakukan shalat?” Iblis berkata, “Adakah engkau ingat pada hari dimana engkau saat itu keluar rumah untuk menuju masjid dan terjatuh di tengah jalan, lalu darah mengalir dari kepala serta membasahi wajahmu?” Sahabat tersebut menjawab, “Ya, aku mengingatnya.” Si iblis berkata, “pada saat kejadian itu, saya mendengar para malaikat berkata, bahwa Allah mengampuni setengah dari dosamu, akibat engkau terjatuh. Maka aku takut Allah akan mengampuni yang setengah lagi dari dosamu yang lain apabila engkau terjatuh untuk kedua kalinya. Oleh karena itu, maka aku mau menuntun langkahmu dan membantumu saat pergi serta pulang dari masjid, agar tidak terjatuh lagi.” Lalu ia pun pergi tanpa menoleh lagi.

3. Seharusnya kita belajar Sebagaimana seorang siswa SMK yang diwajibkan untuk melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL), selain untuk mempraktikkan ilmu yang telah dipelajari selama di bangku sekolah, tentu juga untuk belajar. Belajar bukan saja tentang bagaimana suasana kerja yang ada dalam dunia kerja, tetapi juga ilmu tentang psikologi. Belajar tentang pribadi-pribadi yang terlibat dalam pekerjaan di instansi dan bagian mana ia PKL. Demikian juga dengan kita yang telah dipercaya Allah untuk menjadi aktor dalam sandiwara ini. Belajar dan belajar menjadi pemeran terbaik yang jelas akan mendapatkan bonus dari pemilik skenario harus diusahakan. Perintah belajar seperti yang digariskan dalam ketentuan-ketentuan yang diatur-Nya sangat banyak. Tinggal mau atau tidak aktor itu mempelajarinya. Dan saya harus tahu dengan apa yang saya lakukan. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak tahu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati ; semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya (Qs Al Isra : 36) Semoga setelah kita paham bahwa hidup di dunia ini hanya senda gurau dan tempat dimana kita hanya mampir ngombe (singgah untuk minum ; Jawa), kita akan diberi jalan oleh Allah untuk bisa belajar. Yaitu belajar mengabdi dan mencintai-Nya untuk mendapatkan cinta-Nya, Amin “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs Al Mujadilah : 11)
 
 
 
 
 

Seorang penulis dan blogger dengan sudut pandang yang banyak dibilang “mbeling”, sekaligus seseorang yang berobsesi untuk menjadi pengusaha dengan jalan ilahiah dan rosulillah

Previous

Next

Submit a Comment

Your email address will not be published.