Menguak Kehidupan Islam di Bali “Yang Penting Manfaatnya”

Ini sedikit
tentang saya :

Drs. H.Ismoyo S. Soemarlan M.Par

Alhamdulillah saya lahir di Bandung,
22 Januari 1965. Sejak kecil saya sudah aktif dalam hal organisasi. Menjadi
ketua kelas, ketua OSIS dan beberapa organisasi kecil lainnya.
Saya hidup di Bandung sampai lulus SD. Lalu saya
pindah ke Yogyakarta, masuk SMP 8 Yogyakarta, SMA saya SMA 9 Yogyakarta. Tahun
1983 masuk Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta pada Fakultas Ekonomi
Jurusan Manajemen, lulus tahun 1988.
Tahun 1992 saya sempat mengambil Summer Course di Cornel University in
Ithaca, New York USA, jurusan : Hotel Finance. Dan 2009 sampai dengan  2011 menyelesaikan S2 pada Manajemen
Pariwisata Pasca Sarjana Universitas Udayana Bali.
Saat ini saya tinggal di Jl Tangkuban Perahu,
Perum Grestenan No. 4 Banjar Tegal Buah, Padang Sambian Klod Denpasar Bali.
Sampai sekarang setiap Kamis malam masih digunakan sebagai tempat pengajian
untuk Forum Studi Islam Bali (FOSIBA). Saya menikah dan punya 5 orang anak.
Saya ketemu istri sejak SMP dan dia tetangga saya. dalam bahasa Jawa yang
begini ini disebut dengan Peknggo, ngepek
tonggo
atau mengambil tetangga sendiri.
Kesetiaan
bukan hanya dalam hal cinta, pekerjaan juga
Saya temasuk tipikal setia. Setia itu bukan
masalah cinta saja. Pekerjaan juga membutuhkan kesetiaan. Ini daftar dimana
saya memberikan kesetiaan saya dalam hal pekerjaan :
Ø
Februari 1990 – September 1993 : Account Manager Hotel Intan Bali di Seminyak
Bali
Ø
September 1993 – Agustus 1994 : Manajer Hotel Mutiara Cilacap di Jawa
Ø
Agustus 1994 – Februari 2001 : General Manager Hotel Intan Legian Kuta
Bali dan selama 11 tahun saya di Holding Company yang sama.
Ø
Maret 2001 – Februari 2003 : Managing Director Wisata Sutra Tour and
Travel Denpasar Bali
Ø
Maret 2003 – Sekarang (2013,red) : General Manager Uma Sapna Villa
Seminyak Bali
Ø
1994 – Sekarang (2013) : Pemilik Prasetia Collection
Ø
2011 – Sekarang (2013) : Director PT Uma Sejahtera Bersama
Ø
2011 – Sekarang (2013) Pemilik The Ismaya Villa..
Pendidikan
Ayah sangat keras
Orang tua saya mungkin karena banyak anak,
mendidik anak dengan sangat keras. Satu contoh saat saya menjadi ketua OSIS di
SMA 9 bertugas memberikan sambutan pada perpisahan kakak kelas. Disitu bahasa
saya belepotan, di depan umum dijendul kepala saya oleh ayah. “Kenapa tidak
dipersiapkan.”
Alhamdulillah dengan yang dilakukan
beliau tadi saya tidak marah dan justru menjadi motivasi agar saya semakin baik
ke depan. Memang saya tidak mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Dan
setelah itulah, jangankan hal kecil seperti itu, sebagian besar kejadian yang
kami alami adalah sesuatu yang masuk dalam rencana kami. Kami menjadi apa dan
sekolah dimana dan seterusnya.
Saat saya ikut kegiatan kampus dan harus pulang
lebih dari jam 10 malam, sementara peraturan rumah sudah harus ada di rumah
maksimal jam 10 malam. Saya datang jam 12 malam. Maka di meja saya ada tulisan,
“Mas, kalau kamu masih menganggap aku bapakmu, ikuti aturan di rumah ini. Kalau
tidak silakan mencari tempat lain,” deg, rasanya sesak dada ini. Dan sejak saat
itu saya memilih patuh dengan aturan orang tua. Alhamdulillah semua baik baik saja dan sukses.
Sebagaimana diurai di atas bahwa sebagian besar
dari yang saya peroleh dan alami adalah sesuatu yang sudah kami rencanakan. Dan
ini hanya bisa diperoleh dengan disiplin yang tinggi. Ini salah satu didikan
ayah saya yang saya harus berterima kasih kepada beliau.
Saya mengelola Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS)
demi manfaat yag bisa diberikan kepada seluruh manusia. Saya tidak ingin
manfaat itu hanya diperoleh orang islam saja, tetapi semua orang karena islam
datang untuk memberi manfaat. Apapun bagi saya adalah manfaat. Setelah sesuatu
ditimbang, antara manfaat dan mudharat,
putuskan. BAZNAZ memberikan bea siswa kepada 100 anak dari SD sampai mahasiswa
itu bukan hanya dari orang islam saja, kami memberikannya lintas agama dan
suku. Ya itu tadi manfaatnya. Siapa tahu ini bisa menjadi da’wah yang baik. Ini
pun insya Allah produk dari pendidikan Ayah pula. So, saya harus banyak
berterima kasih kepada Ayah yang telah membesarkan dan mendidik saya menjadi
seperti ini.
Ingin
membuang kesan negatif villa demi manfat
Tentang manfaat lagi ni, ketika vila mendapatan
citra yang selalu buruk maka saya masuk kesana. Saya dan teman-teman ingin
membuang image buruk villa dengan
mendirikan Bali Villa Association.
 Mau tahu
apa saja kesan negatif untuk villa? Utamanya di Bali tentunya. Ini ada beberapa
alasan sehingga saya ngotot ingin masuk ke dalamnya. (1) villa tidak membayar
pajak. (2) Banyak villa bodong tanpa izin dan ilegal (3) villa hanyalah tempat
untuk berbuat mesum (4) tidak aman.
Dari empat kondisi di atas, lalu kami berjuang
untuk menghilangkannya. Tahun 2006 pajak Kabupaten Badung 25 M per tahun, di
tahun 2013 menjadi 365 M per tahun. Jadi ada kenaikan sekian ribu persen. Semua
villa dirapikan dalam arti tertata dan diatur sebagaimana keinginan kami tadi.
Dan karena ada komunitasnya maka semuanya berjalan dengan baik.
Jadi sekali lagi, di tengah heteroginitas masyarakat di Bali, islam yang minoritas ini harus
bisa memberikan manfaat bagi semua pihak. kalau sudah bisa memberikan manfaaat
kepada semua pihak, secara otomatis, umat islam akan mendapatkan manfaat juga.
Saya masuk ke banyak organisasi itu bukan Ismoyonya, tetapi islam dan
da’wahnya. Saya tidak mau islam itu eksklusif. Saya tidak mau menuduh yang lain
eksklusif, dan tugas saya adalah memberi manfaat dan manfaat kepada semua
pihak.
Tidak ada
islamisasi, namun kita patut berintrospeksi
Kalau sampai ada kesan islamisasi di Bali, maka
pasti ada yang salah dengan kemasan maupun tindakan kita. Seperti yang kita
lakukan kemarin-kemarin, khitanan massal ada yang non muslim. Bea siswa jelas
ada penerima yang non muslim. Sedangkan berbuka puasa dengan 1000 anak yatim,
karena sesuai syariat untuk berbuka puasa, maka panti-panti muslim yang kami
undang. Mudah-mudahan dengan aktivitas yang seperti ini tidak ada yang menodai.
So,bagi saya tidak ada istilah islamisasi. Dalam
islam itu tidak ada paksaan. Sampai saat ini saya belum ada niat mengajak orang
non muslim masuk islam. Kalau ternyata dia yang meminta diislamkan ya tingal
memproses saja. Islam itu suatu hidayah, dan orang islam harus memberi contoh
bersikap yang baik. Dari sana lalu orang tertarik dengan islam. Jangan
sebaliknya.
Tentang fasilitas untuk shalat di tempat umum
seperti perguruan tinggi, kita sebagai pendatang harus memberi manfaat dulu.
Kalau sudah memberi manfaat, tidak usah minta pasti akan diberi. Saran saya,
jangan meminta tanpa melakuka dua hal ini. Satu hal kita harus membuka diri dan
bergaul dengan mereka, siapa yang akan kita sasar. Kedua harus introspeksi
diri, mengapa orang sampai berbuat begitu kepada kita.
Saya pun saat marah kepada karyawan saya, dalam
hati sambil berintrospeksi diri, apa yang kurang dari saya sehingga orang bisa
melakukan hal demikian kepada saya. Mengapa karyawan saya bisa melakukan
pelanggaran seperti ini, apa mereka meniru saya?  Sehingga bagi saya introspeksi ini bukan hal
yang tabu untuk dilakukan.
Saya tidak setuju dengan gaya sukuisme. Sebisa
mungkin jangan melakukan hal yang demikian. Saya, Ismoyo ingin memberi manfaat
untuk semuanya. Saya tidak mau dipanggil ustadz. Saya tdak memberi taushiah dan tidak ceramah. Mungkin itu
bukan maqam saya. saya hanya
berda’wah bil hal, da’wah dengan
perilaku. Saya sebisa mungkin akan memberikan teladan kepada muslim utamanya
yang muda dan juga non muslim. Saya masuk ke jajaran pengurus KONI Denpasar
juga demi manfaat dan da’wah bil hal
itu. Intinya kita terutama saya, masih harus berintrospeksi dalam melakukan
kegiatan demi kegiatan agar islam benar-benar tersaji dengan baik.
Hubungan
hindu – muslim
Tentang bom Bali dan hubungan antar umat
beragama. Hal ini sudah ada forumnya yang bernama Forum Komunikasi Umar
Beragama (FKUB). Pak Roihan yang sudah saya anggap sebagai orang tua saya,
beliau menjadi pengurus di FKUB.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa ada orang
yang mengaku beragama islam melakukan tindakan brutal itu? Ini disebabkan oleh
kepicikan berfikir pelakunya. Wong islam itu rahmatan lil alamin kok.
Mungkin sasarannya orang Amerika dan tidak bisa melakukannya disana.
Lalu dilakukan disini, sehingga mereka (pelaku) lupa bahwa korbannya justru
yang terberat orang islam sendiri.
Dampak dari bom Bali ada perubahan yang
signifikan terhadap hubungan hindu-muslim.
Kalau dulu kami sungguh saling menghormati, saling membantu dan tegor
sapa dengan sangat indah dan ramah, setelah adanya bom, menjadi saling tidak percaya.
Segala sesuatu diciptakan oleh Allah pasti ada
pelajaran yang bisa dipetik. Hikmah darinya, manfaatnya tentu harus dari muslim
dulu yang mau bertoleransi dan berkomunikasi dengan mereka. Hal ini harus terus
dan terus dilakukan sampai tidak ada ganjalan. Caranya salah satu seperti yang saya
lakukan dengan masuk ke berbagai kegiatan yang mayoritas pengurusnya orang
Bali. Buktinya bisa. Pelajaran inilah yang seharusnya banyak kita renungkan dan
ambil aksi untuk memperbaiki semuanya.
Sekali lagi, ke depan dibutuhkan kondisi saling
menghargai yang dimulai dari kita. Muslim harus bermanfaat dimana pun berada.
Kita mencari makan disini, maka kita harus memberi manfaat di tempat kita
mengais rejeki itu. Islam yang rahmatan
lil alamin
harus benar-benar menjadi teladan bagi semua orang di bumi ini.
Caranya dengan belajar dan terus belajar.
Yang saya
lakukan untuk memberi manfaat
Sekali manfaat ya tetap manfaat. Nah, demi
manfaat untuk semua, saya melakukan kegiatan sosial yang cukup banyak. Berikut
beberapa diantaranya :
Ø
Pendiri dan ketua Bali Villa Association 2006 – 2011
Ø
Penasihat Bali Villa Association : 2011 – 2015
Ø
Pengurus Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) : 2006 sd
sekarang (2013)
Ø
Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali : 2011 sd sekarang (2013)
Ø
Ketua BAZNAS Kota Denpasar : 2005 sd sekarang (2013)
Ø
Pendiri dan ketua Forum Studi Islam Bali : 2001 sd sekarang (2013)
Ø
Polisi kehormatan POLDA Bali : 2008 sd sekarang (2013)
Ø
Tim Promosi Bali Tourism Board : 2009 sd sekarang (2013)
Ø
Penasihat Forum Komunikasi Alumni ESQBali 2009 sd sekarang (2013)
Ø
Bendahara BP4 Bali : 2012 sd sekarang (2013)
Ø
Pengurus KONI Denpasar : 2013 sd sekarang (2013)
Adapun pameran dagang yang sudah kami ikuti
antara lain : PATA, ATF, Canada Expo, Moskwa Expo, Australian Road, SHOW, ITB
Singapore dll. Pengalaman saya di industri pariwisata telah memberikan saya
dengan latar belakang budaya yang kaya yang telah membentuk kepribadian saya
sebagai seorang individu bekerja damai dan keras.
Akhirnya mari kita melaksanakan mutiara hikmah
ini: “Menjadi
orang biasa untuk manfaat yang luar biasa.”
   Sekali lagi, manfaat dan pokoknya
manfaatnya.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk semuanya.
Amin…
@@@@@@@

 

Disadur dari  buku Menguak Kehidupan Islam di Bali / MKIB

Cuma seseorang yang bercita-cita menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya saja, salah satunya melalui blog ini.

Previous

Next

Submit a Comment

Your email address will not be published.