IBLIS, DURHAKA ATAU TAAT?

Tatkala Allah memerintahkan kepada para Malaikat yang tak terkecuali Iblis untuk bersujud kepada Adam AS, maka semua malaikat bersujud kepada Adam, kecuali Iblis (Qs 2 : 34 ). Dalam kesempatan lain kemudian Iblis sempat ngobrol dengan Adam perihal kelakuannya yang membangkang pada perintah Allah SWT tersebut.

Adam bertanya, “kenapa kamu berani sekali berkelakuan seperti itu, melawan perintah Allah?”. Kemudian Iblis menjawab bahwa menurutnya hanya dia yang telah melaksanakan perintah Allah dengan benar.

“Wahai Adam, ketahuilah bahwa perintah pertama Allah kepada kita adalah untuk menyembah Allah dan tidak ada dzat lain yang boleh disembah selain Dia, masa kamu lupa?. Jadi apabila saat aku disuruh menyembahmu dan aku menurut, maka aku telah berbuat musyrik yang menyekutukan Allah dengan yang lain”, jawab Iblis tegas.
“Mungkin kamu yang salah paham, sebenarnya perintah Allah tadi bukan perintah untuk menyembah aku, tetapi memberikan penghormatan atau penghargaan atas kelebihanku terhadap yang lain”, sanggah Adam.

“Begini Adam, menurutku perintah tadi adalah suatu ujian bagi kita yang ujungnya akan mengarah kepada skenario yang telah dibuat oleh Allah untuk posisi kita masing-masing. Dan saya sangat tidak menginginkan apa yang telah diprogram oleh Allah (sekenario Allah) menjadi bubar karena ketidaktaatan kita kepada perintah-Nya. Jadi sekali lagi, menurut kacamataku perintah Allah untuk menyembah Kamu tadi adalah benar-benar perintah untuk menyembah (bersujud). Atau apapun bentuknya, aku tetap tidak mau kalau disuruh menyembah selain Allah. Coba Kamu bayangkan, perintah Allah yang mengatakan bahwa kita, Aku dan Kamu tidak akan diciptakan kecuali untuk beribadah kepada Allah. Jadi, tidak mungkin Aku akan menyembahmu, sorry la yow”, urai Iblis.

Pembaca yang budiman, Mari kita lihat sekenario Allah selanjutnya yang menciptakan seorang pendamping Adam yang bernama Siti Hawa. Dengan hadirnya Siti Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam, kemudian Allah membuat suatu aturan yang pada saatnya harus dilanggar oleh Adam dan Hawa .
Allah telah membuat ketentuan bahwa Adam dan Hawa boleh berbuat apapun (karena berada di surga), tetapi satu hal yang tidak diperbolehkan yaitu memakan buah Quldi. Kembali Iblis yang pada saat itu telah secara resmi dipecat sebagai kepala Malaikat atas pembangkangannya, berhasil melakukan tugasnya dengan sangat baik. Allah telah mengangkat Adam sebagai penyandang gelar kholifah di muka bumi setelah melengserkan Iblis sebagai kholifah sebelumnya.

Tugas utama Iblis saat itu adalah mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga dengan perantaraan pelanggaran ketentuan Allah tadi. Soal merayu dan bersiasat memang kita pantas untuk belajar dari Iblis. Kecerdasannya sungguh luar biasa dan memang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain. Inilah kebesaran Allah yang memberikan kelebihan dan kelemahan kepada makhluknya.
Tidak bisa dibayangkan oleh akal bagaimana seandainya ketentuan Allah yang mengatakan bahwa di surga tidak ada kehamilan dan persalinan, bahkan pusing dan mabuk akibat minuman keras saja tidak ada. Jadi apabila Iblis tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, tentu kemudian di dunia yang sudah terlanjur diciptakan ini tidak akan pernah ada Sadam Husain, Bung Karno, Hitler atau siapapun juga, karena Adam tidak turun ke Bumi dan tidak memberikan keturunannya. Dengan diturunkannya Adam dan Hawa ke Bumi meskipun dipisahkan dari satu ujung dunia ke ujung dunia lainnya, maka karena takdir Allah (sekenario Allah) memang seperti itu, mereka akhirnya bertemu di Padang Arafah dengan pertemuan yang sungguh sangat mengharukan.

Tak terhitung jumlahnya ungkapan Adam yang mengutuk dirinya karena merasa bersalah yang diiringi dengan cucuran air mata penyesalan. “Rabbana Dzalamna Anfusana Wainlam Taghfirlana Watarhamna lana kunana minal Khosirin”, Ya Rab, aku telah medzolimi diriku sendiri, dan apabila Engkau tidak mengampuni dosaku, niscaya aku akan menjadi orang yang merugi. Doa ini kemudian menjadi suatu istghfar yang sangat mujarab dan canggih untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan kita apabila dilakukan dengan sunguh-sungguh.
Kemudian yang harus kita ingat adalah dengan sangat jujur Iblis mengatakan kepada Allah dihadapan para Malaikat dan Adam, bahwa dia dan keturunannya akan terus mengajak keturunan Adam untuk melakukan pelanggaran atas perintah Allah kepadanya. Iblis dan pasukannya akan melakukan segala daya upaya untuk mengajak anak cucu Adam agar mau mengkhianati hakekat sebagai makhluk yang seharusnya berposisi sebagai manusia yang taat atas perintah Allah dan bukan menjalani posisi Iblis yang memang ditugaskan untuk membelokkannya. Usaha yang akan dilakukan oleh iblis dan pasukannya tadi ternyata tetap ada batasannya, yaitu mereka akan mengibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah, manakala menemukan anak cucu Adam yang ikhlas. Berhadapan dengan orang ikhlas, Iblis dan pasukannya tidak akan bisa berbuat apa-apa. Sedemikian jujur dan konsekuennya Iblis sehingga kita patut belajar tentang komitmen, daya juang dan militansi kepadanya.

Banyak bukti yang mungkin telah kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari, betapa kadang kita menginginkan sesuatu dan ternyata sangat susah untuk mendapatkannya. Tetapi pada saat kita telah mengikhlaskannya (tidak lagi terlalu berharap), justru pada saat itu apa yang tadinya kita inginkan itu kemudian datang dengan sendirinya. Disinilah rupanya pasukan Iblis sedang angkat tangan. So secara matematis bisa digambarkan bahwa (Ikhlas lebih kuat dari pada pasukan Iblis), bagaimana dengan kita?

Dengan mencermati uraian di atas, yang kemudian menjadi pertanyaan besar adalah bagaimana seharusnya kita menjalani ikhlas ini?, kenapa orang-orang yang katanya ikhlas masih mendapatkan godaan dan cobaan yang sangat berat yang akhirnya tumbang juga. Cobaan dengan penderitaan terkadang justru membuat manusia menjadi lebih baik, tetapi manakala diuji dengan kesenangan mereka malah terkapar jatuh.

Ada sebuah anekdot tentang adu kekuatan angin barat dan angin timur yang ada di Pulau Selayar Sulawesi Selatan, untuk menjatuhkan seekor monyet di atas pohon kelapa. Pada saat angin barat dengan kekuatan penuh menerjang, ternyata si monyet justru tidak bisa dijatuhkan karena mampu berpegangan dengan lebih kuat. Tetapi apa jadinya pada saat angin timur yang hanya meniupkan angin sepoi-sepoi?, karena merasakan kenikmatan, akhirnya si monyet terlena. Dengan kondisi yang tak sadarkan diri tersebut kemudian si monyet lengah dalam berpegangan dan akhirnya jatuh. Jadi angin timurlah yang kemudian menjadi pemenangnya.
Pepatah jawa kuno mengatakan “sak beja-bejane wong sing lali, luwih bejo wong kang eling lan waspodo”, artinya seberapapun beruntungnya orang yang lupa, lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada. Mungkin ini saatnya bagi kita untuk terus menjadi orang yang ingat tentang hakekat kita sebagai manusia dan tujuan diciptakan kita yang tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah. Ingat kepada Allah di setiap keadaan akan menyelamatkan kita pada kehidupan saat ini dan sesudahnya. Bagaimanapun orang melihat kita, tidak perlu terlalu dipikirkan. Tetapi apakah mereka tahu apa yang sedang kita pikirkan?, apakah mereka tahu bahwa kita sedang menangisi diri kita yang telah berlumuran dosa?, yang penting kita tetap merasa bersama dengan Allah, merasa dilihat, disaksikan,diridhohi dan dilindungi oleh-Nya.
Ada tiga kalimat yang bisa kita lakukan untuk beramal ikhlas tadi, tentunya sebagai aktualisasi dari pengambilan posisi kita sebagai manusia, dan bukan sebagai pengikut iblis. Yaitu “Tersenyum dalam kesedihan, Tenang dalam kesenangan dan Sopan dalam kemarahan”, yang pernah terurai pada tuulisan berjudul Tak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk perantau.

Apabila kita bisa melakukan ketiganya, niscaya kata Allah dalam hadits Qudsi-Nya, Dia tidak akan memurkai kita pada saat Allah memurkai orang lain. Tersenyum dalam kesedihan mengajak kita pada suatu keikhlasan maksimal yang merelakan kejadian sesedih apapun yang menimpa kita., kejadian yang jelas tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan sebagai manusia normal. Tetapi karena kecintaan kita pada Allah melebihi segalanya, maka apapun yang terjadi, pasti atas kemauan Allah. Dan apabila Allah sudah mau, tak seorangpun bisa menolaknya, sebaliknya apabila Allah tidak menginginkan sesuatu terjadi, apapun yang diusahakan oleh makhluk niscaya tidak akan pernah terjadi.

Tenang dalam kesenangan, mengisyaratkan kepada kita untuk peduli dengan lingkungan kita. Ini adalah sisi kemanusiaan kita sebagai makhluk sosial yang oleh Aristoteless disebut dengan Zoon Politicon. Pada saat kita mendapatkan kesenangan, Rosulullah mencontohkan agar senantiasa ingat dengan lingkungan kita. Bahkan Nabi mencontohkan bahwa orang lain lebih penting dari pada dirinya.

Sopan dalam kemarahan membimbing kita untuk menjadi orang yang tawadhu, tadhoru’an wahufyatan, wara’ dan santun berhadapan dengan siapapun. Kita juga dituntut untuk bisa marah apabila harga diri kita diinjak-injak, tetapi kemarahan itu tidak boleh dibarengi dengan emosi yang akan merugikan kita. Kita boleh marah sesuai dengan ajaran nabi yang hanya diekspresikan lewat perubahan raut muka, sehingga semuanya benar-benar sangat terkontrol dan terarah.

Apabila ini bisa dilakukan oleh setiap orang , niscaya dunia ini akan aman dan manusia akan hidup tentram dan bahagia selamanya. Tetapi kembali ke Laptop, bahwa Allah memiliki sekenario yang selalu melibatkan Iblis di dalamnya. So, kita lihat apa yang terjadi?, sekenario Allah akan tetap jalan, dan dunia akan tetap menjadi tempat yang fana, sementara dan penuh dengan kenisbian, bukan tempat tujuan yang abadi. Dunia tetap akan dihancurkan dan dimusnahkan untuk menuju kehidupan yang sebenarnya di kampung halaman, yaitu kampung akherat.

Menjawab pertanyaan apakah Iblis taat atau durhaka pada Allah, itu bukan domain kita untuk mengurusnya. Tugas kita adalah mengabdi kepada Allah secara total dengan beriman dan beramal shaleh sebanyak-banyaknya yang disertai dengan ketulusan dan kikhlasan yang tinggi karena Allah taala. Siapkah Anda? Wallahu A’lam @Moes, medio 21-4-2007

Seorang penulis dan blogger dengan sudut pandang yang banyak dibilang “mbeling”, sekaligus seseorang yang berobsesi untuk menjadi pengusaha dengan jalan ilahiah dan rosulillah

Previous

Next

Submit a Comment

Your email address will not be published.