Tanda Muslim Yang Siap Perang

Tanda Muslim Yang Siap Perang

Akan datang suatu masa dimana tak seorang pun mau menerima sadaqah. Bahkan dipaksa sekalipun mereka tidak mau menerima. Semua orang hanya ingin memberi dan melaksanakan perintah Allah sebaik mungkin. Saat itulah kemudian malaikat Israfil akan meniup terompetnya sebagai tanda bahwa kiamat sebagai batas keberadaan dunia, batas perang dan tanda dihancurkannya dunia segera datang.

Akan datang juga suatu masa dimana orang melihat orang shalat seperti melihat pertunjukan. Ada orang adzan dikira orang gila, bahkan aktivitas religius dari orang Islam benar-benar sudah menjadi barang langka. Kalau yang ini akan datang pada gelombang pasca kita. Mungkin dialami oleh cucu kita atau generasi setelah kita untuk menjelang kehidupan pada poin pertama.

1. Masih jauh dari harapan
Jujur saja dikemukakan bahwa saat ini memang masih sangat banyak masjid bahkan pembangunannya semakin gencar dengan ornament yang semakin mewah. Kegiatan agama pun masih cukup marak dilaksanakan di setiap penjuru dunia. Namun patut disayangkan, roh dari yang mereka lakukan tersebut kian hari kian meredup. Hakekat dari aktivitas muslim tersebut tidak terlalu nyekrup dengan harapan para ulama pendahulu kita. Bahkan konsep membumikan Al-qur’an jauh api dari panggang. Alhasil banyak ditemui puluhan bahkan ratusan muslim berlengggang kangkung di jalanan, di rumah maupun di tempat aktivitas masing-masing pada saat seharusnya merreka sudah mendengarkan khutbah Jum’at di masjid.

Yang paling tragis adalah kejadian Jum’at malam di akhir januari 2009 lalu ketika ada seorang guru yang kebetulan juga berprofesi menjadi tukang pijat professional, datang ke rumah saya. Pak Yus panggilan akrab beliau yang memang ingin ngobrol dengan saya tentang agama dan seluk beluknya. Ketika sedang asyik berdiskusi Handphone-nya berdering berkali-kali yang kemudian saya sarankan untuk diangkat. Rupanya orang tersebut adalah teman guru yang dulu pernah dipijat oleh Pak Yus dan menjadi lebih sehat. Alhamdulillah Allah memberikan rejeki bagi kedua belah pihak. Kemudian disepakati penelpon yang berinisial Iw tersebut akan menyusul ke rumah saya dimana kami sedang mengobrol.

Dalam pertemuan singkat setelah Pak Iw datang masuklah dia pada diskusi kami. Dikatakanya bahwa keadilan itu tidak ada di Islam sekalipun,katanya. Bahkan secara sembarangan Iw mengeluarkan statemen bahwa Islam sudah tidak cocok lagi diterapkan di jaman sekarang. Al-quran dan hadits yang dimiliki Islam tidak cukup untuk mengatur manusia saat ini. Tegoran saya yang langsung menuduh Iw belum memahami Islam dijadikan boomerang bagi saya katanya saya termasuk orang-orang rekatif yang susah diajak berfikir maju. Padahal beliau seorang muslim dan menjadi panutan di Sekolah Menengah pertama (SMP) tempat dia mentransfer ilmunya. “Ya Allah ada apa dengan muslim?, saya yakin bahwa apapun yang dilakukan orang tentang Islam, apakah mereka mau shalat atau tidak, mereka mau beribadah atau tidak, Islam akan tetap tinggi,” batinku menangis menghadapi orang seperti itu. Memang waktu sangat sempit untuk membahas hal principal itu. Sehingga hanya kepasrahan kepada Allah yang dapat kami lakukan, karena petunjuk memang adalah hak perogratif Allah. Manusia tidak bisa memaksa Allah untuk memberikannya kepada seseorang, bahkan Abu Thalib paman Rasulullah sekalipun.

Lebih dari sekedar hal menyedihkan tersebut, puluhan generasi muda banyak terlihat mengepulkan asap rokok di siang bolong selama Ramadhan. Adab yang dulu menjadi roh Islam sebagai bukti kecintaan kita kepada Rasulullah Saw semakin tidak diminati muslim. Belajar mungkin iya, bahkan di TPA-TPA diajarkan yang demikian itu. Lain halnya dengan pelaksanaannya di rumah masing-masing. Contoh dari peri laku dan kebiasaan orang dewasa di lingkungann rupanya lebih mudah diikuti oleh anak-anak. Inilah posisi sentral dan strategis keluarga untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam yang adalah ya’lu wala yu’la alaihi, tinggi dan tidak ada yang bisa menyemai ketinggiannya, masih dihidupkan oleh pemeluknya.

2. Inilah minimal ciri pribadi muslim itu
Bagaimanakah sebenarnya ciri kepribadian muslim yang seharusnya tanpa malu-malu dilakukan setiap hari?. Yaitu minimal harus melaksanakan lima rukun Islam. Memperbaharui iman dengan sering melafalkan syahadat dan maknanya, melaksanakan shalat lima waktu, berzakat, puasa di bulan Ramadhan dan menunaikan haji bagi yang mampu. Minimal ikut jum’atan setiap jum’at. Ini sangat awam dan wajib ain, wajib untuk setiap kepala. Kalau tidak, resiko ditanggung penumpang.

Selanjutnya membiasakan membaca basmalah (1) sebelum memulai suatu kegiatan. Syukur apabila ucapan atau gumam bacaan basmalahnya sampai bisa terdengar oleh orang di sebelahnya. Berucap hamdalah (2) ketika mendapatkan kenikmatan. Membaca subhanallah (3) ketika menemui sesuatu yang menakjubkan. Berucap insya Allah (4) ketika berjanji atau menyanggupi sesuatu kepada orang lain, sering beristighfar (5) dan bukan berucap astaga ketika ada kesalahan dan khilaf atau melihat kejanggalan, membaca hawalah (6) la haula wala quawata illa billah sebagai bentuk keyakinan akan kekuasaan Allah dan merutinkan bershalawat (7).

Basmalah, yang kata nabi barang siapa memulai suatu kegiatan tanpa dengan membaca basmalah maka akan terputus. Terputus apanya?, terputus dengan siapa?, yaitu terputus dari mengingat Allah yang senantiasa melihat kita, menyaksikan kita, dan kalau kita senantiasa mengingatnya, Dia akan mengabulkan semua permintaan kita. Dan orang akan mendapatkan hasil karya yang tidak berkah, karena tanpa nama Allah menyertainya.

Hamdalah, sebagai ekspresi rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan kehidupan kepada kita. Bahkan memberikan banyak hal yang sebenarnya kita tidak pernah memintanya. Kemudahan yang kita alami sebenarnya adalah salah satu bentuk rejeki yang diberikan Allah kepada kita. Bahkan apabila kita ingin menghitung seberapa banyak sebenarnya nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita, niscaya kita tak akan mampu melakukannya (Qur’an).

Subhanallah, yang berarti maha suci Allah, mendekatkan kita pada sifat uluhiyah manusia, sifat ketuhanan yang ada pada diri kita yang barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya. Allah terbebas dari kotor, kumuh dan hal-hal yang tidak suci. Allah tidak ada sekutu baginya, yang tidak ada tuhan selain-Nya. Manusia biasa akan bertindak secara biasa. Tetapi ketika mendapatkan hal yang diluar kebiasaannya, ekspresikan dengan berucap Subhanallah…!!

Insya Allah, bila Allah mengizinkan, belum jika Allah meridhai. Segala kejadian sekecil apapun, bahkan merayapnya seekor semut hitam di kegelapan malam sekalipun adalah atas izin Allah SWT. Bila Allah mau yang hanya dengan berucap Kun (jadilah) maka jadilah, maka tak ada yang bisa menghalanginya, meski sekuat dan sebesar apapun kekuatan itu dikonsolidasikan. Sebaliknya, bila Allah tidak mau, meskipun seluruh makhluk yang ada di bumi ini berkumpul, niscaya tidak akan bisa memaksa Allah untuk melakukannya. Allah keukeuh (teguh : Sunda), untuk itu kita sebagai umatnya juga harus berjuang mati-matian untuk bisa berkata yang baik dan benar, menepati janji dan untuk bisa melindungi amanah yang dititipkan kepada kita. Bila perlu nyawa sebagai taruhannya.

Istighfar, memohon ampun kepada Allah. Bila kita mencintai diri sendiri, yang setiap hari, setiap saat baik disengaja maupun tidak terus melakukan perbuatan dosa, maka istighfar adalah suatu kewajiban yang harus kita ulang-ulang. Kita adalah makhluk yang memiliki dua potensi yang berlawanan, bukan malaikat yang hanya memiliki satu sisi potensi. Karenanya salah dan dosa adalah salah satu ciri kemanusiaan kita. Siapapun Saudara, merasa sebersih apapun Anda, tetap saja wajib beristighfar karena ternyata tetap ada peluang untuk berbuat dosa. Yaitu dosa kepada Allah SWT. Sedangkan dosa kepada sesama harus ada ijab qabul, ada kata sepakat untuk saling mengikhlaskan.

Hawalah, berucap la haula wala quwata illa billah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah SWT. Dalam kondisi suntuk dimana masalah mendera bertubi-tubi, ketika kita berucap hawalah, insya Allah akan menjadi ringan karena Allah Maha Kuasa atas segalanya. Bahkan dalam kondisi tertentu dengan amalan tertentu hawalah ini bisa digunakan oleh seorang muslim untuk mengobati penyakit. Penyakit apapun, terutama penyakit yang disebabkan oleh perbuatan jin dan setan.

Shalawat, yang barang siapa mencintai Rasulullah, maka harus banyak-banyak membaca shalawat. Barang siapa membaca shalawat satu kali, maka Allah akan membacakan shalawat kepadanya sepuluh kali (hadits). Dengan membiasakan membaca shalawat, teutama ketika sedang dalam perjalanan, maka insya Allah selain perjalanan selamat banyak kemudahan yang bisa kita dapatkan dalam urusan kita. Ashalatu wassalamu alaika ya sayidi ya rasulallah, teruslah di baca.

Selain itu hal yang sangat penting bagi kita adalah tetap memegang teguh dua warisan Rasulullah, yaitu Al Qur’an dan hadits. Agar kita tidak pernah sesat. Insya Allah kemudahan dan kesuksesan akan menyertai kita selamanya, serta memberikan kepada kita kemenangan dalam perang ini, Amin.

“Aku tinggalkan dua hal yang apabila kalian memegang teguh keduanya, niscaya tidak akan pernah sesat selama-lamanya. Yaitu Al Qur’an dan Sunah nabi Saw.”. Hadits lain menjelaskan, “Sesungguhnya kitab suci Al-Qur’an ini satu tepinya di tangan Allah, dan tepi lainnya di tangan kalian. Maka berpegang teguhlah kepadanya (Al-Qur’an), niscaya hidup kalian tidak akan tersesat selama-lamanya.” (HR. Ath-Thabrani)

Seorang penulis dan blogger dengan sudut pandang yang banyak dibilang “mbeling”, sekaligus seseorang yang berobsesi untuk menjadi pengusaha dengan jalan ilahiah dan rosulillah

Previous

Next

Submit a Comment

Your email address will not be published.