Waspadalah, Besok adalah Maut Kita

Masih tergambar jelas pengalaman menggelitik penulis pada akhir tahun 80-an. Sebagai seorang yang berpredikat pengangguran, efisiensi mutlak diperlukan, bahkan cenderung dikejar untuk bisa hidup hemat. Terlebih saat itu masih ngenger (baca : ikut numpang hidup) pada kakak ipar.

Suatu hari sebagaimana anak muda pada umumnya, ada keinginan untuk menonton film bioskop. Datanglah saya ke gedung bioskop (Cineplex) terdekat yang kebetulan sedang menawarkan film-film kesenangan. Saat membeli tiket tiba-tiba mata ini tertuju pada sebuah stiker yang berbunyi “Hari ini bayar besok tidak”. Entah apa yang terjadi dengan pemuda kampungan ini, tiba-tiba ada perasaan senang yang kemudian menjelma menjadi bunga-bunga harapan untuk mendapatkan sesuatu secara gratis. Tetapi pikiran intelek pun juga muncul, “pasti manajemen gedung bioskop ini sedang melakukan promosi”, pikir saya saat itu.

Tanpa menunggu jadwal nonton yang biasanya terkait erat dengan isi dompet sangu dari kakak, besoknya saya datang lagi ke gedung bioskop tersebut dengan membawa uang yang diset hanya untuk membeli kacang goreng. Maklum film Kungfu Hongkong telah menjadi kegemaran sejak kecil. Disitulah kemudian sempat terlontar umpatan dan omelan pada diri sendiri. Terlintas dalam pikiran, pasti hanya saya yang mengalami kejadian bodoh seperti ini, Lalu pulanglah saya. Dan dalam perjalanan pulang di tengah kesadaran yang mulai membaik, tiba-tiba saya terbahak, tersadar, tertawa sendiri, nyaris seperti orang tidak waras. Tentu dengan tetap ada sedikit kejengkelan yang tersisa karena ternyata tetap harus membayar tiket.

Nah, terlepas dari ketololan tersebut, ternyata memang kalau kita kaji lebih dalam, tak seorangpun di dunia ini yang pernah bertemu dengan besok. Dia akan terus berlari menghindar. Hari ini saya membaca kata-kata “sekarang bayar besok tidak”, setelah besoknya dibaca lagi, dia telah kembali menjadi sekarang. Demikian seterusnya tidak akan ada besok, dan kalau begitu tentu saja tidak ada nonton gratis. Sehingga esensi yang bisa kita petik adalah bahwa kita harus bisa memanfaatkan waktu yang diberikan oleh Allah kepada kita sebaik-baiknya. Kita tidak akan pernah tahu berapa menit lagi kita diberi kesempatan untuk bisa menghirup udara segar. Mencari dan mencari bekal untuk kehidupan besok adalah suatu hal yang mutlak.

Besok adalah merupakan sub sistem dari kata yang disebut dengan waktu yang tak seorangpun bisa menghentikan lajunya. Besok adalah sesuatu yang gaib yang hanya ditemui oleh seseorang yang telah berubah status sebagai orang mati dalam arti berpisahnya jasad dengan rohnya.

Stock on hand atau persediaan yang kita miliki saat ini adalah kehidupan dunia untuk menyongsong kehidupan setelah kematian kelak. Karenanya pemanfaatan momen selama berada di alam dunia adalah suatu kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi. Kecuali seseorang mengharapkan murka dan neraka Allah Azza wa Jala.

Rasulullah SAW bersabda :

“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan mati besok”.

Bekerja untuk dunia seakan-akan hidup selamanya tidak didefinisikan dengan bekerja keras yang melupakan Allah dan hari akhir. Bukan pula penumpukan harta yang akan menyulitkan kita di akherat kelak. Sebaliknya keabadian adalah penghadiran sebanyak mungkin saksi yang akan menyelamatkan kita saat berada di mahkamah Allah Rabbul Jalil. Keberadaan saksi baik dari golongan manusia, benda atau apapun yang pernah kita lewati termasuk anggota tubuh kita akan berbicara lantang membela atau menjebloskan kita ke dalam penjara yang di dalamnya terdapat penyiksaan yang tak akan bisa dituntut oleh undang-undang HAM dimanapun, neraka.

urbannight.wordpress.com

urbannight.wordpress.com

Karenanya sebaik-baik pengelolaan stock on hand dan harta kekayaan kita adalah dengan menggunakan konsep manajemen persediaan (inventory manajemen) Just In Time (JIT) dari negara Sakura,Jepang. Yaitu konsep zero stock (tidak ada persediaan) , zero complain (tidak ada komplain) dan zero defect (tidak ada kerusakan). Sehingga terhadap harta, kita cukup menjadi kran penyalur kepada saluran yang telah menunggu, tidak perlu menahan secara berlebihan. Dari sana kita tinggal menunggu Return On Investment (ROI) plus laba (profit) yang akan kita investasikan lagi untuk dipetik di hari esok. Cukup rasanya merupakan kata yang paling pas untuk kehidupan ideal ini. Cukup untuk makan, cukup untuk sandang, cukup untuk menyekolahkan anak dan kebutuhan dasar lain. Bukan kata cukup untuk mencari pembenaran pemborosan ; yaitu cukup untuk shopping yang tidak urgen, cukup untuk jalan-jalan ke luar negeri tanpa tujuan yang jelas , cukup untuk berhura-hura dan penghamburan harta lainnya. JIT membutuhkan teknologi informasi tingkat tinggi, sedangkan kita mendambakan teknologi informasi tingkat paling tinggi dengan kontak langsung kepada Allah SWT.

Bekerja untuk akhirat seakan-akan mati besok pun tidak diartikan sebagai suatu peribadatan yang memforsir dan melupakan kehidupan dunia sebagai fitrah manusia. Pengabdian manusia sebagai hamba Allah mutlak diperlukan untuk mendapatkan derajat tertinggi dari suatu penghargaan yang disebut dengan Ridho Allah. Orang bertakwa dari kalangan sufi menekankan pada pentingnya mengharap dan mendapatkan ridho Allah dan tidak beribadah hanya sekedar ingin mendapatkan surga atau terhindar dari neraka. Keduanya adalah sama dengan kita, hanya makhluk ciptaan Allah, bahkan kita lebih besar dari keduanya.

Sesuatu yang harus benar-benar kita sadari adalah bahwa manusia memiliki dua potensi yang senantiasa berlawanan. Ada baik-ada buruk; ada malam-ada siang; ada panjang-ada pendek ; ada pintar-ada bodoh dan seterusnya. Sedangkan induk dari kedua hal berlawanan yang kemudian menimbulkan sifat kesementaraan (kenisbian) manusia tersebut adalah nurani dan nafsu. Nurani atau yang dinamai orang sebagai hati kecil mendapat pendampingan dan nasehat dari malaikat, dan nafsu ditunggangi serta mendapatkan bisikan dari setan.

Dalam urusan kenisbian manusia memerlukan harmonisasi dan keseimbangan antara dua hal yang berlawanan. Namun dalam urusan pokok dari hal tersebut hanya nurani dan keimanan yang akan membawa keselamatan bagi lembaga Adam yang disebut manusia ini. Manusia adalah makhluk terhormat yang mulia, yang diberi jubah kekhalifahan, yang menjadi imam bagi alam semesta. Allah menghadirkan kita sebagai pemegang otoritas kebenaran sejati pembawa misi pencerahan kehidupan alam semesta.

Firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 30

“Sesuangguhnya aku akan menciptakan seorang khalifah di muka bumi”

Setiap kita adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinan kita. Besok adalah maut kita, manusia dituntut oleh Allah untuk memberikan seluruh hidupnya demi mangabdi kepada-Nya, dengan pengertian bahwa hidup manusia adalah untuk Tuhan sekaligus menjadi alat Tuhan untuk menyosialisasikan pada tugas kekhalifahan.

Al Qur’an Surat Adz Dzariyat ayat 56 menegaskan bahwa Allah tidak akan menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya.
Sample product (contoh makhluk) Allah dari golongan manusia yang terbaik adalah Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Setiap detik dari hidupnya hanya digunakan untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah. Rasulullah telah memberikan petunjuk tentang cara-cara mengabdi kepada Allah baik pengabdian yang telah ditentukan (Mahdhah) seperti Shalat, zakat , puasa dan yang lainnya. Demikian juga pengabdian (ibadah) yang tidak ditentukan (ghairu mahdhah) yang dalam kehidupan syariat telah disampaikan secara sempurna kepada umatnya. Rasulullah SAW adalah satu figur teladan yang sejak bangun tidur sampai tidur lagi hanya melakukan aktivitas-aktivitas yang bernilai ibadah.

Manusia diminta untuk mengalahkan hawa nafsu dengan iman kepada Allah dan memelihara jasadnya dengan moral. Moral adalah barometer tertinggi bagi kehidupan manusia. Islam datang untuk terwujudnya pribadi yang sempurna, yaitu pribadi yang memiliki tiga unsur penting yang berupa akal , ruh dan akhlak dan kemudian mengaktifkannya. Manusia juga diminta untuk menyembah Allah secara sempurna, yaitu dengan mengikuti bimbingan Rasulullah SAW yang kemudian Allah akan menguatkan cinta-Nya kepada manusia di dalam hatinya. Sehingga Rasulullah SAW memegang tangannya dan mengantarkannya kepada yang mengutusnya sebagai penghormatan kepada esensi ilahiah. Kemudian kita akan menjadi musafir menuju tanah suci hakekat melalui jalan rahasia untuk bertemu dengan Allah.

“Ashsholatu wassalamu alaika ya sayidi ya Rasulallah, Hud biyadi qalat hilati adrikni” (shalawat dan salam kupersembahkan kepadamu wahai Rasulullah, letakkan di tanganku dan berikanlah)

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah berfirman

“Aku adalah harta karun yang tersimpan dan terpendam, aku ingin dikenal. Maka aku menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia mengenal Aku”

Jalan untuk menuju kesana adalah dengan meruntuhkan bangunan Iblis yang dibangun di atas pondasi naluri-naluri feodal yang dilumuri oleh hawa nasfu. Kemudian membongkar dinding-dinding yang disusun dengan batu bata egoisme dan menghancurleburkan pasir-pasir yang diambil dari tanah Lumpur kebodohan. Akhirnya darajat sebagai makhluk “Ahsani Taqwim”, yaitu derajat yang menjadi lebih mulia sebagai makhluk Tuhan akan dicapai. Disinilah kita akan mengetahui siapa sebenarnya manusia secara spiritual, bukan hanya manusia secara anatomis yang memiliki hidung, mata, telinga dan anggota tubuh lain yang tersusun sempurna tersebut. Untuk itu semestinya kita senantiasa mengingat bahwa besok memang adalah maut kita dan kita harus mencari bekal dan mempersiapkannya mulai detik ini, tidak bisa tidak.

Seorang penulis dan blogger dengan sudut pandang yang banyak dibilang “mbeling”, sekaligus seseorang yang berobsesi untuk menjadi pengusaha dengan jalan ilahiah dan rosulillah

Previous

Next

Submit a Comment

Your email address will not be published.